• Steve JM

Rasionalisasi Arsitektur

Dewasa ini dunia arsitektur telah mengalami perkembangan yang begitu pesat. Teknologi dan berbagai ilmu pengetahuan telah mendorong para arsitek untuk berpikir dan berjuang keras dalam menghasilkan karyanya. Saat ini arsitektur tidak lagi dilihat sebagai sebuah usaha untuk memenuhi kebutuhan ruang atau tempat baik untuk tinggal atau beraktifitas. Arsitektur mulai diterjemahkan sebagai sebuah usaha subyektif untuk memetakan berbagai elemen dan komponen dalam sebuah sistem atau struktur tertentu, tidak saja memenuhi kebutuhan akan ruang terhadap fungsi dan kegunaan tapi juga keinginan untuk mencapai kepuasan estetik. Selain berusaha untuk menciptakan sebuah ruang,  para arsitek pun berusaha merealisasikan ide dan konsep mereka.   

Salah satu pemicu perkembangan desain arsitektur adalah berkembangnya berbagai teori-teori dalam dunia arsitektur, terutama pada era postmodern. Namun ternyata tidak semua teori-teori yang muncul dan berkembang dapat diterima dengan mudah oleh dunia arsitektur. Bahkan meskipun beberapa arsitek telah berusaha mengimplentasikan teori dalam wujud desain arsitektur, bukan berarti teori tersebut serta merta diterima atau mendapat tanggapan positif di kalangan arsitektur atau kaum awam.

Faktor lain yang menyebabkan munculnya perdebatan panajng terhadap sebeuh teori arsitektur adalah karena arsitektur bukanlah suatu ilmu pasti atau sebuah seni murni. Arsitektur merupaka suatu hal yang sangat kompleks dan berhubungan dengan banyak hal, mulai dari yang terlihat hingga yang hanya dapat dirasakan saja. Belum lagi setiap individu memiliki nilai tersendiri untuk setiap hal yang ada yang sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh berbagai hal dan latar belakang.

Lingkungan nyata, pengetahuan dan pengalaman merupakan beberapa diantara faktor penentu standar nilai seseorang. Belum lagi keterlibatan manusia dalam dan terhadap ruang sangatlah beragam, masing-masing ruang memiliki kesan dan peran yang berbeda-beda pada setiap orang. Pengalaman kita, terutama terhadap ruang, sangat mempengaruhi pengertian dan pemahaman kita terhadap arsitektur.

Implementasi Teori Dalam Desain

Melandasi desain dengan sebuah konsep atau landasan teori merupakan salah satu usaha arsitek untuk menambah nilai lebih pada ruang yang dihasilkannya. Namun ternyata mengimplemetasikan sebuah teori ke dalam konsep desain adalah sama sulitnya dengan menyusun sebuah teori. Mengembangkan sebuah teori yang sudah ada atau sudah pernah dikemukakan oleh orang lain merupakan salah satu hal yang wajar dalam desain arsitektur.

Namun ada banyak faktor yang dapat menimbulkan bias dalam implementasi teori ke dalam desain arsitektur tak bisa dihindari. Dalam menyusun sebuah teori, seseorang dapat dipengaruhi oleh satu atau banyak hal. Mulai dari hal yang paling sederhana hingga banyak hal yang sangat kompleks, mulai dari hasil sebuah observasi atau hipotesis terhadap fenomena yang ada. Bahkan ada beberapa teori yang hadir sebagai kontra dari teori lainnya. Selain itu latar belakang dan pengalaman sang penyusun teori pun sangat berpengaruh, karena ini akan mempengaruhi pola pikirnya. Faktor lain yang tak kalah pentingnya adalah faktor waktu dan tempat.

Mengingat di dunia ini tidak ada pernah dua orang yang sama persis, maka yang bisa dilakukan hanyalah meminimalisasi bias tersebut. Menentukan acuan, konteks dan pemahaman yang menyeluruh terhadap runutan dan kerangka pikir pencetus teori merupakan salah satu faktor yang harus dilakukan. Pengetahuan terhadap sejarah, terutama untuk memahami faktor-faktor apa saja yang menjadi latar belakang perumusan teori tersebut juga memiliki peran penting dalam mengurangi bias implementasi teori ke dalam desain arsitektural.

Tetapi dalam perkembangannya tak sedikit muncul keraguan terhadap baik teori maupun desain arsitektur yang ada. Kaum Post-Strukturalis misalnya, kadang melalui sebuah explorasi struktur menghasilkan sebuah desain baru yang abstrak atau irrasinonal, namun berbagai argumen dan data digunakan untuk menjelaskan hal tersebut sebagai sesuatu yang logis atau rasional. Pig Farm karya MVRDV misalnya, jika merunut pada pola pikir, logika dan data yang dipaparkan oleh sang arsitek, maka formulasi desain yang dihasilkan akan nampak benar-benar logis dan rasional, tapi jika dilihat dari sudut pandang/aspek lain, desain tersebut belum tentu logis bahkan cenderung irrasional.

Manipulasi bentuk memang merupakan suatu hal yang wajar dan umum ditemui dalam arsitektur, namun apakah manipulasi tersebut adalah sesuatu yang rasional dan bisa diterima logika atau hanya sebuah pembenaran terhadap keinginan sang arsitek?


Rasional atau Irrasional?

Kata rasional dan irrasional ada kaitannya dengan kata Logic yang berasal dari Yunani kuno λόγος (logos). Kata Logic aslinya memiliki arti the word atau what is spoken, tetapi dalam perkembangannya diartikan pula sebagai thought (pikiran) atau reason (alasan). Sebuah argumen disebut logis jika argumen tersebut berusaha menunjukan kebenaran berdasarkan kebenaran-kebenaran lainnya yang sudah ada sebelumnya. Sebuah argumen yang logis kadang disebut juga rasional, meski sebenarnya rasional memiliki definisi yang lebih luas daripada logis.

Rasional memiliki unsur ‘tidak pasti/jelas namun terasa’, sebuah argumen yang berdasarkan kemungkinan/perkiraan, harapan, pengalaman pribadi namun memiliki hubungan prinsip yang jelas antara hal-hal tersebut dan dapat dibuktikan secara logis. Rasional juga dapat mengacu pada kesuksesan pencapaian tujuan tertentu, apapun tujuannya. Rasional juga dapat diterjemahkan sebagai memiliki pengetahuan sepenuhnya tentang detail sesuatu atau kejadian yang ada/terjadi.

Dalam filosofi, rasionalisasi dan argumentasi adalah metoda kunci yang digunakan untuk mengolah data yang diperoleh secara empiris, yang mewakili hasil sebuah percobaan tertentu dan pengamatan langsung.

Sementara itu irrasional dapat diartikan adalah sebuah tindakan yang menge-sampingkan rasional. Isitlah ini digunakan untuk menjelaskan cara berpikir dan aksi yang nampak tidak berguna atau jauh dari logika. Hal ini cenderung terjadi karena didasarkan pada emosi atau perasaan semata. Manusia memiliki tendensi untuk menilai seluruh pemikiran, perkataan dan aksinya agar rasional dan menilai mereka yang tidak menyetujuinya sebagai irrasional. Irrasional dapat diterjemahkan juga sebagai sebuah harapan yang tidak realistik atau percaya pada logika yang salah.

Setiap manusia memiliki kecenderungan untuk berpikir secara rasional atau berdasarkan logika. Oleh karenanya tidak heran jika setiap hal-hal yang tidak memenuhi logika akan selalu dipertanyakan dan diperdebatkan. Rasa ingin tahu dan logika ini pulalah yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan manusia selama ini.

Usaha untuk menalarkan alau menjelaskankan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara gamblang atau pasti namun terraba oleh logika pun terjadi dalam arsitektur. Salah satu contohnya adalah usaha beberapa arsitek baik masa lalu maupun masa kini untuk merasionalisasikan apa yang disebut indah secara arsitektural. Contoh usaha ini ditandai dengan kemunculan teori-teori seperti teorema Pitagoras, Golden Section atau Vitruvius man.

Keindahan yang dikorelasikan sebagai kesempurnaan merupakan salah satu tujuan arsitektur klasik. Melalui pengamatan terhadap berbagai keindahan unsur alam yang ada, setiap orang berusaha menemukan formulasi keindahan yang bisa diterima secara rasional atau secara logika. Pada era Romawi dan Yunani kuno misalnya, salah satu tugas arsitek saat membangun kuil untuk para dewa adalah memastikan bahwa ukuran-ukuran yang mereka gunakan benar-benar dapat diterima secara rasional. Bahkan Le Corbusier pun lewat bukunya Le Modulor yang pertama kali terbit pada tahun 1950, memperkenalkan istilah grid proporsional dengan nama yang sama, yang menurutnya merupakan sebuah proporsi sempurna berdasarkan Golden Section.

Konsep atau teori arsitektur yang rasional hanya bisa dicapai melalui cara berpikir kritis yang berdasarkan nilai-nilai intelektual yang mencakup luas seluruh permasalahan yang ada serta memiliki kejelasan, ketepatan, keakuratan, bukti dan kejujuran. Agar dapat berpikir kritis dengan baik, harus dilengkapi dengan kemampuan mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi, terutama terhadap pernyataan atau pendapat yang diajukan orang lain. Berpikir kritis merupakan sebuah proses yang terdiri dari perefleksian arti sesungguhnya sebuah pernyataan, menganalisis bukti-bukti yang disajikan dan alasannya, dan menyusun kesimpulan berdasarkan fakta yang ada.

Bagaimanakah kita dapat membedakan mana yang rasional dan irrasional? Darimana kita bisa menarik garis tegas antara rasional dan irrasional? Dalam memahami sebuah teori, tentu saja kita diminta untuk memahami dan mengerti runut pikir sang penyaji teori. Kita dapat saja diarahkan untuk mengumpulkan data dan membangun sebuah teori yang mengijinkan kita untuk bertanya lebih tentang data yang berhubungan. Kemudian kita memodifikasi teori tersebut berdasarkan data, atau sebaliknya. Disinilah bias tersebut biasa terjadi. Sesuatu yang irrasional bisa menjadi rasional atau sebaliknya.

Ada satu prinsip dasar yang harus dipegang dalam mencoba menjelaskan secara rasional sesuatu, yaitu penjelasan atau argumen tersebut boleh berlawanan dengan hukum alam. Hal ini juga berlaku dalam desain arsitektur. Penjelasan dalam argumen-argumen desain arsitektur yang secara insting bertentangan dengan sifat naluriah manusia dan alam secara serta merta akan dinilai irrasional.

Meski definisi rasional secara umum memiliki sifat subyektifitas dan bergantung pada kemampuan berpikir dan logika seseorang, namun rasionalitas dalam arsitektur layaknya arsitektur itu sendiri meski merupakan hasil permikiran atau konseptualisasi arsitek terhadap ruang dan solusi permasahan namun tidak bisa subjektif.

Dalam teori arsitektur, rasionaliasi haruslah menjadi sebuah kebenaran terhadap data baik yang merupakan interpretasi maupun ekspetasi namun disatu sisi haruslah bersifat obyektif. Pembuktian dan penalaran teori atau konsep tersebut tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar dan naluri manusia sebagai subyek sentral arsitektur.

Jika data diolah berdasarkan satu aspek saja, tanpa mempedulikan aspek lainnya, maka karya arsitektural tersebut akan menjadi sebuah pembenaran semata, bukan suatu solusi ruang secara menyeluruh terhadap kebutuhan atau permasalahan yang ada.


Oleh:

Stevanus J Manahampi

Referensi:

Spohn,  Wolfgang; The Many Facets of the Theory of Rationality; Department of Philosophy, University of Konstanz, Germany

Van Der Schoot, Albert;  Rationality And Irrationality In Architecture; 2001; Amsterdam

Berbagai sumber dari www.wikipedia.com

52 views0 comments

Recent Posts

See All